Jakarta — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dari berita yang kita baca hingga sistem kerja yang kita gunakan, AI menghadirkan kekaguman sekaligus kecemasan. Pertanyaan besar pun muncul: apakah teknologi ini akan menggantikan peran manusia, atau justru mencerminkan nilai yang kita tanamkan sebagai pencipta?
Dr. Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta, mengajak melihat isu ini melalui lensa filsafat Islam, khususnya pemikiran Mulla Sadra. Menurut Sadra, setiap keberadaan adalah pancaran dari sebab yang melahirkannya. Dengan demikian, AI bukan sekadar mesin, melainkan refleksi dari niat, nilai, dan kepemimpinan manusia di balik penciptaannya.
Bagi para pemimpin, perspektif ini penting. Ancaman AI tidak hanya terletak pada algoritma, tetapi pada kualitas moral dan visi yang ditanamkan. Jika kepemimpinan menanamkan kebaikan, teknologi akan menjadi sarana kemajuan. Sebaliknya, jika yang dipancarkan adalah ambisi sempit, maka AI bisa menjadi ancaman nyata.
Pelajaran utama bagi pemimpin masa kini adalah bahwa keberhasilan mengelola AI bergantung pada integritas, foresight, dan kemampuan membimbing masyarakat menghadapi perubahan. Kepemimpinan visioner bukan sekadar mengadopsi teknologi, tetapi memastikan bahwa teknologi mencerminkan nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, masa depan AI adalah cermin dari kepemimpinan kita. Teknologi akan menjadi ancaman atau peluang, tergantung pada arah moral dan strategi yang kita pilih.
