// GP Herry Saputro | Entrepreneur – Author – Provokator Mind

Kisah Pengusaha Daerah: Membangun Harapan di Tengah Ketimpangan Akses dan Aturan Pusat

August 4, 2025

Share:

Di banyak pelosok Indonesia, ribuan pengusaha lokal terus bertahan dalam senyap. Mereka tidak kalah dalam persaingan, tapi sering kali tidak memiliki kesempatan untuk bertanding secara adil. Ketimpangan infrastruktur, minimnya akses terhadap regulasi, dan logistik yang mahal membuat langkah mereka terhambat bahkan sebelum dimulai.

Sementara kota-kota besar berlomba dalam transformasi digital dan inovasi teknologi, banyak pelaku usaha di luar pusat justru masih berkutat pada persoalan paling dasar: sambungan internet yang tidak stabil, perizinan yang rumit, hingga biaya kirim yang tidak rasional.

Ketimpangan Akses yang Nyata

Upaya pemerataan ekonomi yang dicanangkan pemerintah belum sepenuhnya terasa di luar Jawa. Ketimpangan nyata terlihat dari beberapa aspek:

  • Akses pembiayaan usaha masih minim. Banyak pelaku UMKM di daerah belum terjangkau layanan perbankan, apalagi produk kredit usaha rakyat.
  • Biaya logistik yang jauh lebih mahal membuat produk daerah kesulitan bersaing secara harga.
  • Literasi hukum usaha dan digital masih rendah karena tidak ada pendampingan berkelanjutan di tingkat lokal.
  • Banyak regulasi pusat dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi riil di daerah, sehingga sulit diimplementasikan.

Situasi ini tidak menggambarkan kelemahan pelaku usaha daerah, melainkan kesenjangan sistem yang belum ditutup.

Realitas Lapangan: Bertahan Tanpa Fasilitas

Di banyak desa wisata, pelaku usaha kerajinan harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengecek pesanan daring. Di sektor pertanian, banyak petani yang ingin mengekspor produknya secara mandiri terkendala pada dokumentasi dan proses administratif yang rumit.

UMKM makanan lokal yang viral secara organik di media sosial pun sering tersendat karena kendala perizinan, standar kemasan, atau sertifikasi yang tidak mudah dicapai tanpa pendampingan teknis. Bukan karena mereka tidak siap berkembang, tetapi sistem di sekitarnya belum menyediakan jalur yang mendukung.

Strategi Bertahan: Sederhana, Tapi Berdampak

Keterbatasan tidak memadamkan semangat. Justru di tengah tantangan, muncul kreativitas yang membumi dan mengakar.

1. Kekuatan Komunitas

Jejaring lokal seperti koperasi digital, forum UMKM, dan kerja sama dengan sekolah vokasi menjadi wadah saling bantu dan berbagi pengetahuan.

2. Adaptasi Digital Bertahap

Alih-alih memaksa adopsi teknologi tinggi, pelaku usaha daerah memulai dari langkah kecil seperti katalog WhatsApp, promosi lewat media sosial lokal, dan transaksi digital sederhana dengan QRIS.

3. Pemanfaatan Potensi Lokal

Produk khas daerah tetap menjadi kekuatan utama, mulai dari kerajinan hingga hasil pertanian. Ketika diberikan akses dan pasar yang tepat, produk-produk ini mampu bersaing secara nasional bahkan internasional.

Mendorong Arah Baru dalam Kebijakan

Agar potensi pengusaha daerah benar-benar tumbuh sejajar, diperlukan perubahan pendekatan. Pemerataan tidak cukup hanya dalam bentuk program seremonial, tetapi harus hadir dalam bentuk sistem yang bekerja.

Beberapa hal yang perlu didorong:

  • Pendampingan usaha secara berkelanjutan, bukan pelatihan satu kali yang tidak berdampak.
  • Regulasi yang lebih fleksibel dan kontekstual terhadap kebutuhan daerah.
  • Infrastruktur digital dan logistik yang inklusif, tidak hanya terpusat di kota besar.
  • Insentif bagi perusahaan besar untuk bermitra dengan UMKM daerah, membangun ekosistem yang saling menguatkan.

Inspirasi dari Pelosok Nusantara

Di Kalimantan Barat, pelaku usaha olahan ikan berhasil menjangkau pasar nasional melalui marketplace daring setelah mengikuti pelatihan singkat dari komunitas wirausaha lokal.

Di Nusa Tenggara Timur, sekelompok penenun tradisional memperluas pasar ke Eropa dengan memanfaatkan media sosial dan jaringan diaspora.

Di Sulawesi Selatan, petani cabai dan anaknya membangun bisnis sambal rumahan yang kini memiliki jaringan reseller di berbagai kota besar.

Semua ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang ketika ekosistem mendukung.

Penutup: Kekuatan dari Pinggiran

Pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan tidak hanya akan datang dari gedung-gedung pencakar langit di kota besar. Justru dari desa-desa, gunung, dan pesisir—akan lahir pelaku usaha yang tangguh, adaptif, dan visioner.

Pengusaha daerah bukan sekadar bertahan. Mereka menjaga harapan, menjaga jati diri bangsa, dan membuktikan bahwa ekonomi kerakyatan bukan konsep usang, melainkan fondasi masa depan.

Sudah saatnya narasi besar tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia memberi tempat bagi suara dari pinggiran. Bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai pusat kekuatan baru yang layak didengar, dihargai, dan dibantu bertumbuh.