Jakarta — Di panggung 2.0 Award Trends Summit 2026 di Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, 24 Januari 2026, nama Dr. dr. Hj. Yessi Rahmawati, Sp.OG., Subsp. Obginsos., M.H., M.Kes., C.M.C., FISQua disebut sebagai penerima Inspiring Professional & Leadership Award 2026. Penghargaan dari Award Magazine yang diserahkan oleh GP Rajasa Pranadewa itu menyorot satu hal: kepemimpinan yang bukan hanya kuat di keputusan, tetapi juga hadir dalam pengalaman pasien dari pintu masuk sampai pulang.
Sebagai Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo sekaligus dokter SpOG konsultan, dr. Yessi membawa cara pandang yang tegas namun humanis: rumah sakit daerah bisa naik kelas ketika mutu, empati, dan tata kelola berjalan beriringan. Jejaknya sebagai Surveior KARS, Konsultan Manajemen Kesehatan, serta keterlibatannya dalam jejaring mutu internasional FISQua ikut membentuk gaya kepemimpinan yang rapi, terukur, dan berorientasi perbaikan berkelanjutan.
Yang menarik, transformasi itu tidak berhenti di ruang rapat. Ia diterjemahkan menjadi inovasi yang terasa langsung oleh pasien dan keluarga. WJ SATIA (Waluyo Jati Sambut Tamu Istimewa Pasien dan Keluarga), misalnya, menghadirkan petugas among tamu yang menyambut pasien sejak kedatangan, mengarahkan ke unit yang tepat, menjelaskan alur layanan, hingga mendampingi pasien lansia atau yang memiliki keterbatasan fisik. Dalam konteks layanan publik, detail kecil seperti “disambut dan dipandu” sering kali menjadi penentu rasa aman.

Di sisi komunikasi, dr. Yessi mendorong pendekatan yang lebih responsif melalui BUNDA CARE (Complain, Apresiation, Response and Education)—kanal pengaduan berbasis WhatsApp dan penanganan langsung di rumah sakit. BUNDA CARE bukan semata “kotak saran digital”, melainkan sistem yang menempatkan keluhan dan apresiasi sebagai bahan pembelajaran, lalu merespons cepat dengan tindak lanjut yang jelas. Dalam kepemimpinan layanan, kemampuan mendengar sering kali sama pentingnya dengan kemampuan memutuskan.
Budaya kerja juga ditata melalui gerakan BUGARR (Bersih, Unggul, Gerak Cepat, Aman, Ramah, dan Rapi Kinerjanya). BUGARR menegaskan standar perilaku layanan—mulai dari kebersihan, keamanan, keramahan, hingga kecepatan—sebagai “kebiasaan bersama”, bukan proyek sesaat. Perubahan yang bertahan lama biasanya lahir dari budaya, bukan slogan.

Yang membuat kepemimpinan dr. Yessi terlihat solid adalah konsistensinya di banyak lini: penguatan mutu dan akreditasi, pembinaan SDM melalui peran di pendidikan/pelatihan (termasuk keterlibatannya pada unit diklat), serta aktivitas organisasi profesi. Ia tercatat aktif di IDI dan jejaring profesi—dari MKEK IDI Cabang Kabupaten Probolinggo, hingga peran di IDI Wilayah Jawa Timur dan POGI—yang menambah perspektif etik, kolaborasi, dan penguatan standar praktik.
Jejak prestasinya juga menunjukkan kontinuitas: Satyalancana Karya Satya X Tahun (2022), Adi Strada Leadership (2023), hingga rangkaian penghargaan lain yang menyorot inovasi layanan dan kepemimpinan di sektor kesehatan. Puncaknya pada 2026 ini terasa seperti pengakuan atas perjalanan panjang: memimpin rumah sakit daerah dengan standar mutu, namun tetap menjaga sisi paling manusiawi dari layanan kesehatan.


Di era ketika masyarakat semakin kritis terhadap kualitas layanan publik, kisah dr. Yessi memberi pesan yang sederhana namun kuat: kepemimpinan yang berdampak adalah kepemimpinan yang membuat sistem bekerja, sekaligus membuat orang merasa diperlakukan dengan baik. Bagi banyak institusi layanan, itulah definisi kemajuan yang paling relevan—bukan hanya “lebih cepat”, tetapi juga “lebih peduli”.
Social Media: Facebook: Yessi Dokter Obsgyn | Instagram: @yessi_dokter_obsgyn
