Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

// Leadership Update

Illiza dan Kepemimpinan Hijau Banda Aceh: Ketika Pengelolaan Sampah Menjadi Agenda Kota

October 5, 2026

Share:

Kepemimpinan Illiza Sa’aduddin Djamal membawa Banda Aceh meraih Silver IMT-GT Green City Award 2026 kategori pengelolaan sampah dan memperkuat agenda kota berkelanjutan.

BANDA ACEH — Kepemimpinan di tingkat kota tidak selalu diukur dari besarnya pembangunan fisik yang terlihat. Dalam beberapa tahun terakhir, isu lingkungan semakin menuntut pemerintah daerah untuk menghadirkan kebijakan yang mampu menjawab persoalan sehari-hari sekaligus mempersiapkan kota menghadapi tantangan jangka panjang.

Bagi Pemerintah Kota Banda Aceh, pengelolaan sampah menjadi salah satu agenda tersebut. Komitmen itu mendapat pengakuan regional setelah Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menerima Silver Award kategori Solid Waste Management dalam 1st IMT-GT Green City Award 2026. Penghargaan tersebut diterima dalam rangkaian Gala Dinner 32nd IMT-GT Ministerial Meeting and Related Meetings di JW Marriott Hotel Medan, 9 September 2026.

Penghargaan diberikan dalam kategori yang diikuti kota-kota di kawasan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT). Manjung Municipality, Malaysia, memperoleh Gold Award, Banda Aceh City mendapatkan Silver Award, sedangkan Pekanbaru City memperoleh Bronze Award.

SPONSORED VIDEO
Tertarik dengan penawaran ini?Pilih Lihat Detail atau langsung Hubungi Kami.

Kepemimpinan yang Berangkat dari Persoalan Perkotaan

Pengelolaan sampah merupakan persoalan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, kepemimpinan dalam bidang lingkungan tidak cukup berhenti pada pencanangan program, tetapi membutuhkan kemampuan pemerintah untuk membangun sistem, menjaga konsistensi, serta melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya.

Illiza menyampaikan bahwa penghargaan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi Pemerintah Kota Banda Aceh untuk terus melakukan pembenahan. Pemerintah kota juga menekankan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.

Pendekatan kolaboratif tersebut menjadi penting karena pengelolaan sampah pada dasarnya tidak hanya berlangsung di lingkungan pemerintahan. Perubahan perilaku masyarakat, partisipasi sektor swasta, dukungan komunitas, serta kapasitas pemerintah dalam menyediakan sistem pengelolaan yang efektif menjadi bagian yang saling berkaitan.

Bagi seorang pemimpin daerah, tantangannya adalah memastikan seluruh elemen tersebut dapat bergerak dalam arah yang sama. Di sinilah penghargaan yang diterima Banda Aceh dapat dibaca sebagai momentum untuk memperkuat agenda lingkungan, bukan sekadar sebagai pencapaian seremonial.

Dari Penghargaan Menuju Konsistensi

Program lingkungan membutuhkan kesinambungan. Penghargaan dapat memberikan pengakuan atas capaian tertentu, tetapi keberlanjutan kebijakan tetap bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga kualitas pelaksanaan dari waktu ke waktu.

Hal tersebut sejalan dengan karakter IMT-GT Green City Award yang memang dirancang untuk mengakui kota yang menunjukkan keunggulan, inovasi, dan komitmen berkelanjutan dalam pembangunan perkotaan yang lebih hijau, inklusif, dan tangguh terhadap perubahan iklim. Penghargaan tersebut juga mendorong pertukaran praktik baik serta kerja sama lintas batas di antara kota-kota kawasan IMT-GT.

Dengan demikian, Silver Award yang diterima Banda Aceh membawa ruang pembelajaran yang lebih luas. Kota tidak hanya memperoleh pengakuan, tetapi juga berada dalam ekosistem yang memungkinkan pemerintah daerah saling mempelajari pendekatan pengelolaan lingkungan dari kota lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Membawa Banda Aceh ke Panggung Regional

Konteks regional menjadi bagian penting dari pencapaian tersebut. Penghargaan diberikan dalam rangkaian Pertemuan Menteri IMT-GT ke-32 yang mempertemukan perwakilan pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Pertemuan tersebut menegaskan kembali komitmen ketiga negara untuk memperkuat integrasi ekonomi, kerja sama regional, serta membangun kawasan IMT-GT yang semakin terhubung dan resilien.

Dalam kerangka itu, kota memiliki peran penting karena banyak agenda pembangunan berkelanjutan pada akhirnya dilaksanakan di tingkat lokal. Pengelolaan sampah, transportasi, energi, biodiversitas, hingga ketahanan iklim membutuhkan kebijakan yang dapat diterapkan secara langsung oleh pemerintah kota.

Karena itu, kepemimpinan kepala daerah memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan agenda besar pembangunan berkelanjutan menjadi program yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Kepemimpinan yang Mengajak Bergerak Bersama

Bagi Illiza, penghargaan ini dapat menjadi titik untuk memperkuat pesan bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan bukan pekerjaan satu institusi. Pemerintah dapat menetapkan kebijakan dan menyediakan sistem, tetapi keberhasilan pengelolaan lingkungan juga ditentukan oleh partisipasi masyarakat dan berbagai kelompok yang hidup serta beraktivitas di dalam kota.

Pada akhirnya, kepemimpinan lingkungan bukan hanya tentang seberapa banyak penghargaan yang diterima sebuah daerah. Ukuran yang lebih substantif terletak pada kemampuan menjaga keberlanjutan program, memperluas partisipasi, dan menjadikan kebijakan lingkungan sebagai bagian dari budaya masyarakat.

Silver Award IMT-GT Green City Award 2026 menjadi salah satu penanda perjalanan Banda Aceh dalam agenda tersebut. Bagi Illiza dan Pemerintah Kota Banda Aceh, penghargaan ini sekaligus menghadirkan tanggung jawab untuk melanjutkan pembenahan pengelolaan sampah dan memperkuat pembangunan kota yang lebih berkelanjutan.

Di tingkat kawasan, pengalaman Banda Aceh juga menunjukkan bagaimana kebijakan lokal dapat menjadi bagian dari percakapan regional mengenai pembangunan kota hijau. Ketika praktik baik dapat dibagikan dan dikembangkan lintas wilayah, kepemimpinan daerah tidak hanya memberi dampak bagi warganya sendiri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama di kawasan IMT-GT.

award magazine