Jakarta — Harvard Business Review menyoroti tantangan kepemimpinan di era ketidakpastian, ketika pemimpin menghadapi kombinasi volatilitas kebijakan, penetrasi AI, dan fragmentasi geopolitik. Kondisi ini menciptakan rasa takut yang meluas dan menekan kapasitas organisasi untuk berinovasi.
Volatilitas kebijakan menjadi faktor utama. Perubahan tarif, regulasi mendadak, hingga embargo perdagangan dapat mengubah rencana bisnis dalam hitungan jam. Pemimpin dituntut membangun sistem intelijen kebijakan yang mampu memilah informasi faktual dari rumor, sehingga organisasi merespons berdasarkan data, bukan kepanikan.
AI juga menjadi sumber ketidakpastian. Pertanyaan tentang fungsi yang akan digantikan atau diperkuat oleh mesin menimbulkan kecemasan di kalangan pekerja. Artikel HBR menekankan perlunya doktrin AI yang jelas: transparansi tentang peran teknologi, batasan penggunaan, serta komitmen reskilling sebelum restrukturisasi.
Fragmentasi geopolitik memperumit lanskap bisnis. Peta global yang terpecah menjadi blok regional menuntut perusahaan membangun rantai pasok yang tangguh, diversifikasi sumber daya, dan simulasi skenario krisis. Resiliensi bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat keberlangsungan.
HBR juga menyoroti bagaimana rasa takut mendistorsi kepemimpinan: keputusan ditunda, kontrol berlebihan, dan narasi organisasi melemah. Pemimpin harus melawan pola ini dengan melindungi waktu untuk visi strategis, menjaga narasi yang konsisten, dan mengubah ketakutan menjadi fokus.
Kesimpulannya, kepemimpinan di era ketidakpastian bukan tentang menghapus rasa takut, melainkan mengonversinya menjadi kejelasan, keberanian, dan tujuan bersama. Pemimpin yang mampu jujur tentang ketidakpastian sekaligus menjaga arah strategis akan membangun kepercayaan dan ketahanan organisasi.
