Lisbon — Wakil Presiden Nvidia untuk teknologi simulasi, Rev Lebaredian, menegaskan bahwa separasi dari China berpotensi menghambat kemajuan kecerdasan buatan (AI) global. Pernyataan ini disampaikan dalam ajang Web Summit 2025 di Lisbon, Portugal, yang dihadiri lebih dari 70 ribu peserta dari 150 negara.
Lebaredian menekankan bahwa “setengah dari insinyur komputer dan ilmuwan yang berada di garis depan teknologi ada di China.” Menurutnya, jika komunitas global berusaha mengecualikan mereka, maka China akan tetap menemukan cara untuk mengembangkan teknologi serupa secara mandiri.
Ia juga mengingatkan bahwa kolaborasi internasional adalah kunci untuk mempercepat inovasi. “Kita akan kehilangan kesempatan untuk bekerja sama dan mengambil manfaat dari kontribusi mereka,” ujarnya. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang sebelumnya menyebut China akan tetap dominan dalam perlombaan AI generasi berikutnya meski akses terhadap chip tercanggih dibatasi.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menegaskan larangan ekspor chip AI paling canggih, termasuk seri Blackwell, ke China. Gedung Putih menyatakan bahwa teknologi tersebut akan diprioritaskan untuk perusahaan domestik, menimbulkan ketegangan baru dalam hubungan dagang AS‑China.
Lebaredian, yang bertanggung jawab atas pengembangan “otak robot” melalui platform Omniverse dan simulasi, menilai bahwa kebijakan restriktif justru berisiko memperlambat inovasi global. Baginya, kepemimpinan dalam teknologi tidak hanya soal kepemilikan chip, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem kolaboratif lintas negara.
Diskusi di Web Summit 2025 menyoroti dilema kepemimpinan teknologi: antara menjaga keamanan nasional dan mendorong kolaborasi global. Bagi para pemimpin industri, pesan Lebaredian menjadi peringatan bahwa isolasi teknologi dapat berujung pada fragmentasi inovasi, sementara keterbukaan justru memperkuat daya saing bersama.
