// Leadership Update

Buruknya Kualitas Hidup di Sejumlah Negara Bagian AS Jadi Alarm bagi Para Pemimpin Daerah

July 29, 2025

Share:

Washington D.C. – Dalam iklim ketenagakerjaan yang semakin kompetitif dan penuh tantangan, para pemimpin daerah di Amerika Serikat menghadapi tekanan baru: menciptakan wilayah yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga layak huni bagi talenta masa depan.

Laporan tahunan America’s Top States for Business 2025 dari CNBC mengungkap sejumlah negara bagian dengan kualitas hidup terburuk di AS. Dari sisi kebijakan publik hingga perlindungan sosial, negara-negara bagian seperti Tennessee, Texas, Indiana, dan Georgia mencatat skor terendah dalam aspek-aspek yang kini semakin diperhatikan oleh generasi pekerja baru—termasuk akses kesehatan, hak reproduksi, perlindungan inklusivitas, dan keamanan publik.

Tennessee, yang menduduki posisi terbawah, mencetak skor hanya 61 dari 265 poin. Meski menggelontorkan anggaran besar untuk penanggulangan kriminalitas, negara bagian ini tetap memiliki tingkat kekerasan tertinggi ketiga di negara tersebut. Ditambah dengan kebijakan diskriminatif terhadap komunitas LGBTQ+ dan minimnya perlindungan pekerja, Tennessee dinilai gagal menyediakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Texas, meski menjadi magnet ekonomi, menghadapi krisis kualitas hidup yang mengakar. Negara bagian ini memiliki tingkat warga tanpa asuransi kesehatan tertinggi di AS, serta sistem perlindungan pekerja dan hak reproduksi yang sangat terbatas. Sementara Indiana dibayangi oleh buruknya akses ke penitipan anak dan kualitas udara, menjadikan biaya hidup keluarga pekerja sangat tinggi dibandingkan kemampuan ekonomi rata-rata.

Dalam laporan tersebut, CNBC menekankan bahwa kualitas hidup kini menjadi “kebutuhan strategis” dalam kebijakan kepemimpinan lokal, terutama di tengah kekurangan tenaga kerja nasional sebesar 1 juta orang. Negara bagian dengan iklim sosial yang lebih inklusif, sistem kesehatan yang dapat diakses, dan perlindungan hukum yang adil cenderung lebih menarik bagi talenta muda—termasuk profesional di bidang teknologi, pendidikan, hingga sektor layanan.

Hal ini menyoroti pentingnya transformasi kebijakan di level lokal. “Pemerintah negara bagian perlu menyadari bahwa menarik investasi bukan hanya soal insentif pajak, tetapi juga soal apakah masyarakat ingin dan mampu tinggal di sana,” tulis laporan tersebut.

Dengan semakin besarnya peran kualitas hidup dalam menarik SDM unggul, para pemimpin di berbagai negara bagian Amerika Serikat dihadapkan pada pilihan strategis: beradaptasi dan berinvestasi dalam kesejahteraan warganya, atau tertinggal dalam perebutan talenta global.